Minggu, 14 April 2013

KURIKULUM 2013....OH YANG MENYUSAHKAN SEMUA GURU

Kurikulum disebut-sebut sebagai inti pendidikan dan menjadi ciri utama sekolah sebagai institusi yang bergerak pelayanan pendidikan. Kurikulum di dalamnya terdiri dari lima komponen: (1) Tujuan Pendidikan; (2) Isi (3) Strategi; (4) Pengelolaan Kurikulum, dan (5)  Evaluasi.
Dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah, guru mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk melaksanakan pengajaran atau sekarang lebih dikenal dengan istilah pembelajaran dan guru  menjadi eksekutif  utama kurikulum.
Kegiatan pembelajaran diwujudkan dalam bentuk  interaksi  antara guru dengan siswa. Siswa memiliki tugas pokok belajar yakni berusaha memperoleh perubahan perilaku atau pencapaian kemampuan tertentu berdasarkan pengalaman belajarnya yang diperoleh dalam  berinteraksi dengan lingkungannya.
Untuk mencapai tujuan pendidikan, guru berupaya “menyampaikan” sejumlah isi pembelajaran kepada siswa melalui proses atau strategi tertentu, serta melaksanakan evaluasi untuk mengetahui proses dan hasil pembelajaran.
Untuk lebih jelasnya, tentang kedudukan kurikulum dalam pendidikan dapat dilihat dalam gambar di bawah ini.
Kedudukan Kurikulum dan Guru dalam Pendidikan
Perlu dicatat, meski memiliki kedudukan sentral dalam pendidikan, keberadaan kurikulum tetap saja hanya sebagai alat (instrumental) yang bersifat statis. Kurikulum akan bermakna ketika benar-benar dapat terimplementasikan dengan baik dan tepat dalam setiap praktik pembelajaran (Kurikulum sebagai kegiatan) serta dapat berjalan efektif dan efisien (Kurikulum sebagai hasil).
=========
Jika diibaratkan membuat suatu makanan, guru adalah Koki, -sang pembuat makanan-, dan kurikulum adalah kumpulan resep makanan yang dijadikan pegangan bagi sang Koki untuk membuat suatu makanan, di dalamnya memuat bahan dan cara untuk membuat makanan.
Untuk menghasilkan makanan yang baik tentu tidak cukup mengandalkan pada resep yang ada, tetapi justru yang paling penting adalah bagaimana memproses bahan-bahan yang ada, dengan alat yang ada agar menjadi suatu makanan yang lezat dan menarik. Semua ini akan sangat ditentukan oleh pengetahuan dan keterampilan sang Koki dalam mengolah makanan sedemikian rupa. Sehebat apapun resep makanan yang dibuat, tidak akan banyak berarti manakala sang Koki tidak memiliki kemampuan untuk menterjemahkan resep secara tepat ke dalam praktik nyata proses pengolahan makanan.
Saya lebih meyakini bahwa seorang Koki yang hebat dan profesional (tersertifikasi)  akan lebih mampu  menghasilkan makanan-makanan yang bernilai dan bercita rasa tinggi, sekalipun makanan itu terbuat dari bahan yang seadanya dan dengan menggunakan alat yang seadanya pula.  Sebaliknya, di tangan Koki yang amatiran, walau disediakan bahan dan alat yang mewah tampaknya hanya akan menghasilkan kemubaziran,  misalnya: tampilan makanan yang kurang mengundang selera, masih mentah, gosong atau tidak jelas rasanya.
Meski tidak sepenuhnya persis dan identik, analogi ini barangkali bisa menggambarkan tentang sebuah proses pendidikan. Berkaitan dengan perubahan Kurikulum 2006 ke Kurikulum 2013, apakah karena kita sedang berhadapan dengan buku resepnya yang keliru sehingga sulit dipahami dan dijadikan pedoman bagi sang Koki ataukah justru kita sedang menghadapi persoalan dengan kemampuan sang Koki dalam mengolah makanan?
Sejauh ini saya lebih melihatnya pada pilihan kedua dan inilah persoalan yang kerap terjadi dalam setiap pergantian kurikulum. Hingga di akhir ujung hayatnya Kurikulum 2006, saya melihat masih ada sebagian  teman-teman di pelosok negeri ini yang sama sekali belum tersentuh dengan makhluk yang bernama Kurikulum 2006. Bagi mereka Kurikulum 2006  tak ubahnya seperti makhluk gaib. Kenapa bisa demikian? Salah satunya adalah kurangnya mendapatkan akses untuk meng-upgrade pengetahuan dan keterampilan yang sesuai dengan tuntutan Kurikulum 2006.
Oleh karena itu, memasuki era  Kurikulum 2013,  harus bisa memastikan bahwa setiap guru dapat termotivasi dan terlatih untuk mampu menjalankan Kurikulum 2013 ini. Jika tidak dilakukan pembenahan dari sisi ini, maka ide-ide yang tertuang dalam kurikulum 2013 tetap saja hanya akan menjadi sekumpulan ide atau dokumen yang sama sekali tak berguna.
Mendidik tentu sangat berbeda dengan mengolah makanan. Mendidik memang  jauh lebih rumit karena melibatkan faktor manusia dengan segala keunikan dan karakteristiknya yang sangat kompleks. Meski sulit, pendidikan harus tetap dilakukan dan kita semua tidak menginginkan makanan  yang gosong atau tidak matang sehingga harus berujung di tong sampah.  Oleh karena itu, untuk menghindari kemubaziran, bagi guru tampaknya  hanya tersedia dua pilihan: Jadilah guru profesional atau tidak sama sekali! Apapun wujud kurikulumnya,  tetaplah berdedikasi pada profesi dengan mencurahkan segenap potensi terbaik yang dimiliki, demi  pendidikan yang lebih baik, demi putera-puteri didik kita, agar kelak mereka dapat memiliki kehidupan yang lebih baik.
Yang menjadi pertanyaan berikutnya adalah: “Siapa yang paling bertanggung jawab untuk mewujudkan guru profesional itu?” Jawabannya saya serahkan kepada Anda untuk mengelaborasinya lebih lanjut.

Senin, 25 Maret 2013

LATIHAN SOAL BAHASA INDONESIA

YAYASAN PENDIDIKAN AL HUSNA
SMK AL HUSNA CISAGA
Izin PPDB Nomor : 421.3/539-disdik/2012
Jalan Raya Banjar-Ciamis Kecamatan Cisaga

CYBER DAILY TEST TWO

Program Keahlian             : FARMASI & KEPERAWATAN
Mata Pelajaran                 : BAHASA INDONESIA
Kelas/ Semester               : X/ II
Tahun Pelajaran               : 2012/2013
Alokasi waktu                  : SAMPAI HARI SENIN PUKUL 08.00 WIB
Guru Mata Pelajaran         : Ari Nugraha, S.Pd.,M.Pd.
 
PETUNJUK PENGISIAN
  1. Kerjakan soal di bawah ini dengan teliti dan jawab yang benar
  2. Hasil jawaban tidak boleh sama dengan teman Anda, misalnya : contoh, dan isi paragraf. Apabila terindikasi/ ketahuan sama hasil jawabannya maka dinyatakan tidak lulus!
  3. Kumpulkan dalam kertas polio bergaris tepat pada hari Senin, 1 April 2013. Apabila terlambat atau tertinggal maka tidak akan diperiksa dan dinyatakan tidak lulus!



Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut dengan baik dan benar!
  1. Sebutkanlah penggolongan kelas kata secara umum!
  2. Sebutkan ciri-ciri kata kerja!
  3. Apa yang dimaksud dengan partikel? Beri contohnya!
  4. Sebutkanlah ciri-ciri kata benda! Beri contohnya!
  5. Apa yang dimaksud dengan kata sandang dan sebutkan macam-macamnya!
  6. Jelaskan yang dimaksud dengan tema!
  7. Apa saja hal yang harus dipertimbangkan saat membuat judul karangan?
  8. Hal apa saja yang harus dipersiapkan sebelum menulis karangan? Buatkah ke dalam contoh perencanaan karangan!
  9. Hal apa saja yang perlu diperhatikan dalam menulis karangan narasi?
  10. Buatlah minimal 2 paragraf narasi!
  11. Buatlah minimal 2 paragraf agumentasi!
  12. Buatlah minimal 2 paragraf deskripsi!
  13. Buatlah minimal 2 paragraf eksposisi!
  14. Buatlah minimal 2 paragraf persuasi!


SELAMAT BEKERJA !!!

Selasa, 12 Maret 2013

Laporan Diskusi tentang ‘Masalah dalam Perkembangan Masa Dewasa Awal’

A.    Sekilas tentang “ Apa sih perkembangan masa dewasa awal ? “
        Perkembangan masa dewasa awal ini adalah masa dimana seseorang mulai menginjakkan umur sekitar 19-25 tahun. Dalam masa dewasa awal banyak sekali masalah yang bisa terjadi pada individu. Khususnya kami membahas masa dewas awal ini, permasalahan dalam mahasiswa. Ini beberapa yang dibahas dalam diskusi ini adalah
1. Bagaimana seorang individu yang mengalami keterlambatan dalam hal pola berpikir maupun dalam menyelesaikan masalah. Ketidakmampuan pemecahan masalah ini ditujukan pada :
                  a. Ketidakmampuan mengambil keputusan secara tepat
                  b. Kecendrungan untuk bergantung dan mengikuti apa yang dilakukan kelompok
                  c. Terjebak dalam perilaku yang tidak bermanfaat, misal membeli tugas skripsi.
      Idealnya seorang mahasiswa yang sudah memasuki tahap perkembangan dewasa awal sudah memiliki kemampuan berpikir dalam mememcahkan masalah dengan usaha menemukan sasaran pemecahan yang ideal, berpikir kritis, dan mampu menganalisa dan mencari solusi yang tepat.
        Penyebab
Umumnya karena pola asuh yang salah, terlalu memanjakan dan tidak melatih anak bersikap mandiri dan tidak mendidik anak pada sikap-sikap positif.
2. Terjadinya Keterlambatan perkembangan kemandirian belajar
      Dalam tugas perkembangan ini, idealnya seorang mahasiswa sudah mampu menyelesaikan pekerjaan dan tugas-tugas belajarnya secara mandiri, mampu menentukan kebutuhan belajar, merencanakan belajar dari segi tempat dan waktu, melaksanakan belajar dari segi waktu dan intensitas, mengevaluasi belajar dengan mengikuti latihan-latihan tes formatif,  tugas mandiri dan tugas kelompok, serta mampu berusaha mendapatkan bantuan belajar yang dibutuhkan. Namun terkadang, masih terdapat mahasiswa yang mengalami kegagalan mencapai tahap perkembangan ini. Keterlambatan perkembangan kemandirian belajar ini banyak ditunjukkan dengan adanya :
                  a. Rendahnya motivasi belajar
                  b. Rendahnya konsep diri
                  c. Rendahnya etos kerja
                  d. Rendahnya daya juang mahasiswa

  1. B.     Isi Diskusi
Dalam diskusi ini banyak pertanyaan yang didiskusikan bersama seperti :
-          Bagaimana pola asuh orang tua yang bisa mempengaruhi perkembangan anaknya di masa dewasanya?
-          Apakah faktor lingkungan dan teman sebaya juga berpengaruh pada pribadi seseorang? Entah dalam memecahkan masalah atau bergaul?
-          Seberapa besar pengaruh teman sebaya membuat individu itu dalam memutuskan sesuatu hal? Ikut mayoritas (pengikut saja), tidak memiliki pilihan sendiri?
-          Bagaimana dengan persaingan dalam kelompok (teman sebaya). Apakah di masa dewasa awal ini persaingan masih terjadi? Seperti dengan anak kuliahan yang merasakan kurang / biasa saja antar pertemanan tidak ada persaingan?
-          Sebenarnya apa sih bedanya motivasi dengan obsesi? Seperti keinginan seseorang yang menggebu-gebu mencapai sesuatu?
-          Apakah pengaruh pola asuh orang tua jaman dulu itu mempengaruhi bagaimana kesuksesan anak kedepannya?
-          Pola asuh  orang tua yang seperti apa yang paling bagus? Dan pada saat apa macam-macam pola asuh sebaiknya digunakan?
Pembahasannya adalah :
-          Pola asuh orang tua juga dapat mempengaruhi perkembangan anaknya dimasa dewasa awal, karena pembentukan karakter dan kepribadian dimulai dari lingkungan utama yaitu keluarga. Bagaimana seorang anak mempelajari segala hal, dimulai dengan pengajaran dari orang tua atau saudaranya. Pengasuhan orang tua itu sendiri tidak sepenuhnya mempengaruhi kesuksesan anaknya, karena didikan orang tuanya itu sebagai pegangan dan prinsip yang dipegang, tetapi yang menjalankan dan mencapai kesuksesan itu adalah diri kita sendiri. Pendidikan yang diberikan orang tua sebagai penguat/dasar pandangan hidup kita. Orang tua sebagai penyemangat dan dorongan dalam mencapai kesuksesan.
-          Iya teman sebaya dan faktor lingkungan juga mempengaruhi pribadi seseorang. Karena menurut psikologi perkembangan, teman sebaya merupakan no.2 pembawa pengaruh paling besar atas kepribadian seseorang. Karena mereka banyak menghabiskan waktunya dengan teman sebayanya. Dalam pergaulan dengan teman sebayanya, disini lah mereka mencari jati diri dan bagaimana ia bersikap bisa terlihat dalam kelompok pertemanan. Biasanya orang yang sangat bergantung dengan teman sebaya atau istilahnya hanya menjadi follower saja,  dia tidak bisa memutuskan sesuatu atas dasar pilihannya, ia cenderung mengikuti bagaimana pola bermain yang ada dalam kelompok itu. Dalam memecahkan masalah pun, ia bertanya pada teman sebayanya dan tidak bisa menyelesaikan sendiri.
-          Sama seperti yang sudah dijelaskan diatas, pengaruh teman sebaya merupakan no.2 pembawa pengaruh atas kepribadian seseorang. Lalu, mereka yang menjadi minoritas, akan mengikuti mayoritas yang ada. Mungkin ini dimaksudkan untuk tidak berani mengungkapkan pendapat.
-          Mungkin persaingan antar teman sebaya di masa kuliah, sudah berkurang. Tidak sebesar rasa persaingan saat dimasa-masa sekolah seperti SMP dan SMA. Karena disini mahasiswa sudah memiliki pengalaman dan mempunyai pandangan sendiri bagaimana saya melakukan sesuatu, bagaimana saya memutuskan suatu hal. Secara teori mungkin belum bisa dijelaskan bagaimana ini bisa terjadi, tapi menurut pengalaman dan cerita dari orang-orang, saat masa kuliah ini mereka cenderung merasakan tidak mau ambil pusing. Dalam artian tidak ingin bersikap yang terlalu ambisius namun santai tapi serius dalam mencapai apa yang dia inginkan. Persaingan pasti ada, tetapi tidak terlalu mencolok dalam masa pencapaiannya.
-          Bedanya motivasi dengan obsesi, yaitu motivasi adalah bagaimana dorongan seseorang yang bersifat positif dalam mencapai sesuatu. Motivasi memiliki dorongan yang lebih positif disbanding dengan obsesi. Obsesi itu lebih seperti keinginan seseorang dalam mencapai hal yang menjadi pikirannya tetapi terkesan lebih seperti memaksakan. Sebenarnya obsesi itu hal yang menjadi pemikiran dia yang harus bisa terjadi sesuai dengan apa yang dia inginkan. Menurut psikologi pendidikan, ada beberapa ciri-ciri orang yang memiliki motivasi ini, seperti do something, ada melakukan suatu hal yang menjadi dorongan dia, memiliki rasa percaya diri, kreatif, selalu berusaha, memiliki target (yang postif dan pasti), tidak mengeluh, mempunyai prinsip dan selalu melakukan suatu hal dengan efektif&efisien. Kurang lebih seperti itu, cirri-ciri orang yang memiliki motivasi.
-          Pola asuh orang tua jaman dulu ada pengaruhnya dimasa depan kita. Karena ada beberapa hal yang memang sudah menjadi budaya, namun bagaimana pintar-pintarnya orang tua kita sekarang ini dalam memberikan pola asuh terhadap kita. Tidak semua pola asuh orang tua jaman dulu diberlakukan sama persis oleh orang tua kita dalam mengasuh. Karena adapun pepatah yang mengatakan ‘Orang tua harus terbuka dengan perkembangan zaman’ dalam artian orang tua harus bisa melihat bagaimana perkembangan zaman sekarang dengan zaman dulu. Dengan begitu, orang tua dapat masuk/terlibat juga dalam dunia kita. Banyak orang tua jaman sekarang juga mengikuti training/ seminar parenting, ini dimaksudkan agar bagaimana pola asuh yang sebaiknya digunakan. Pola asuh orang tua jaman dulu hanya diambil beberapa nilai yang menjadi panutannya, tidak mungkin pola asuh yang sangat keras dijaman dulu digunakan di jaman sekarang. Karena jaman dulu dan sekarang sudah berbeda kondisinya. Orang tua sudah tahu apa yang terbaik untuk anaknya. Untuk itu, orang tua jaman sekarang mau tidak mau harus membuka mata dengan perkembangan jaman sekarang dan bagaimana menyesuaikannya.
-          Bila ditanya pola asuh mana yang lebih bagus, akan sulit menjelaskannya. Karena pada dasarnya semua tipe pola asuh itu tidak ada yang buruk. Semua sama bagusnya, hanya saja mana yang terbaik dari yang terbaik. Pola asuh orang tua itu sendiri ada 3 macam, yaitu :
  1. Pola Asuh Otoriter, yaitu dimana anak dituntut untuk menjalani apa yang menjadi tuntutan orang tuanya. anak hanya menurut saja tanpa melawan (pendapat sendiri). Disini orang tua sangat mengekang dan keras. Anak yang di asuh dengan pola asuh otoriter ini, dalam pergaulan denga teman-teman sebayanya akan cenderung sebagai pengekang dan pembankang. Namun didalam rumah ia sebagai penurut, ini disebabkan karena ia merasakan kehidupan lain dan merasa bebas saat tidak berada dirumah. Dia merasakan bebas berekspresi saat berada dilingkungan luar tanpa ada yang melarangnya.
  2. Pola Asuh Demokratif, dimana orang tua lebih bersifat bebas namun tegas. Disini orang tua lebih terbuka dengan perkembangan zaman. Dalam artian, tidak terlalu mengekang namun memberikan anak space  dalam mengungkapkan pendapatnya.
  3. Pola Asuh Permisif, orang tua sangat membebaskan anak. Tidak ada kekangan/paksaan dalam pola asuhnya ini.
Kita tidak bisa langsung memutuskan ini pola asuh yang terbaik. Karena dalam pengasuhan ini, ada saatnya dimana orang tua memberlakukan pola asuh otoriter, demokratis ataupun permisif. Semua pola asuh itu baik, namun bagaimana orang tua kita memberikan pola asuh itu disaat yang memang seharusnya digunakan. Seperti pola asuh otoriter, dalam masalah sekolah/pendidikan, orang tua sangat tegas dalam masalah pendidikan anaknya. Beliau menginginkan yang terbaik serta memberikan pandangan dan ketegasan dalam masalah pendidikan. Kemudian dalam memutuskan suatu hal, orang tua akan membebaskan kepada diri kita. Disini pola asuh demokratis digunakan orang tua. Intinya orang tua sudah sangat mengetahui bagaimana baiknya ia mengasuh kita sebagai anaknya.
  1. C.    Kesimpulan
      Dari diskusi ini bisa diambil kesimpulan bahwa, masalah dalam perkembangan masa dewasa awal, banyak dipengaruhi juga oleh faktor eksternal. Seperti pengaruh teman sebaya, keluarga dan pola asuh orang tua, yang dimana masing-masing membawa pengaruh yang berbeda-beda. Ada positif dan negative. Namun disini lebih melihat juga bagaimana individu itu sendiri dalam menyikapi dirinya. Seperti masalah keterlambatan pola berpikir ini dengan cara penangan yang bisa dilakukan Penanganan
                    1.  Kemampuan memecahkan masalah mahasiswa didukung oleh faktor eksternal  dan internal.  Faktor Eksternal berasal dari keluarga, pengaruh teman sebaya, pola komunikasi, dan lingkungan pendidikan. Faktor internal berasal dari pengalaman pribadi, kemampuan intelegensi, kepercayaan diri, dan kreativitas. Faktor-faktor inilah yang perlu dikembangkan dan dilatih.
                     2. Meningkatkan pola komunikasi interpersonal dengan mahasiswa.
                          Komunikasi seseorang pada suatu tempat akan membantu seseorang menyelesaikan masalahnya, dan memberikan kepuasan yang bersifat personal. Adanya suatu masalah yang dikomunikasikan dengan suatu pihak akan memberikan kesempatan pada individu untuk mendapatkan pengalaman dan informasi tentang pemecahan masalah sejak awal.
                        3.   Menggali dan melatih kreativitas mahasiswa
                              Kreativitas yang dimiliki mahasiswa, memiliki peran aktif dalam proses belajar. Tingginya kreativitas akan membuat mahasiswa lebih mudah dalam kemampuan memecahkan masalah dengan mengkombinasikan ide-ide lama menjadi ide baru
                        Kemudian dalam masalah keterlambatan perkembangan kemandirian belajar ini dapat dilakukan penangannya :
                        1.   Membuat desain pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan (gaya belajar andragogig / gaya belajar pada orang dewasa, dengan melibatkan mahasiswa dalam proses pembelajaran secara aktif
                        2.   Kompetisi dan proses evaluasi dilakuan secara objektif
                        3.   Gerakan membangkitkan semangat mahasiswa dalam manajemen waktu
                        4.   Terus melatih dan mendorong mahasiswa untuk mengerjakan tugas, buat kelompok     diskusi
5.   Tetap memberikan tugas mandiri kepada mahasiswa an hargai hasil pekerjaannya dengan mereview serta memberikan komentar yang memandu pada perbaikan
6.   Membuat seluruh aktivitas dan tugas – tugas perkuliahan  kreatif yang dapat mendorong mahasiswa untuk membaca, menulis, menganalisa dengan indicator-indikator yang terukur (hal ini sangat membantu menimbulkan kemandirian belajar mahasiswa)

Senin, 04 Februari 2013

EKSTRAKULIKULER JURNALISTIK THE EXCELLENT


A.    LATAR BELAKANG
Jurnalistik merupakan ilmu yang akrab dengan masyarakat sehari-hari. Ia ada di televisi, majalah, koran, radio dan internet.  Jurnalistik dengan kelenturannya juga bisa masuk di berbagai disiplin ilmu. Ia tidak hanya mengasah keterampilan menulis bagi orang yang mempelajari jurnalistik  namun lebih jauh mengajak orang untuk berfikir lebih dalam, bagi orang yang mempelajarinya.
Mengapa Ekstrakurikuler Jurnalistik?
Ekstrakulikuler Jurnalistik, dimaksudkan untuk membangun kelompok-kelompok jurnalistik di tingkat siswa. Hal ini merupakan upaya pensiasatan untuk kalangan siswa mengisi waktu senggangnya selepas kegiatan pendidikan wajib di sekolah. Upaya ini, juga berjalan beriringan dengan program pendidikan nasional, kurikulum berbasis kompetensi. Kompetensi yang ditawarkan dalam program ini adalah menulis. Ragam penulisan yang sedemikian banyak bisa menjadi pilihan para siswa untuk mengekspresikan dirinya. Membuat cerita pendek, puisi, tulisan berita dan novel. Di luar ekspresi-ekspresi yang telah menjadi paradigma para siswa “nongkrong di mall, nonton di bioskop, main playstation, bahkan tawuran”.
Biasanya, sekolah-sekolah memiliki media majalah dinding atau majalah sekolah. Yang dikelola bersama guru dan siswa. Hal ini merupakan kegiatan yang sangat positif. Namun, kegiatan jurnalistik tidak berhenti begitu saja seusai majalah dinding dikreasi atau majalah/ tabloid sekolah diterbitkan. Ada banyak pendalaman yang bisa dilakukan untuk lebih mengasah bakat dan kemampuan jurnalistik/ menulis seseorang.
Disini kami hadir untuk menjadi solusi bagi sekolah yang ingin membuat media cetak sebagai alat publikasi jurnalistik. Kami akan hadirkan sesuatu yang inovatif dan kreatif sehingga majalah/ tabloid sekolah yang dihasilkan dapat menjadi sebuah majalah yang menarik hati dan membuat orang nyaman ketika membacanya.
Dasar-dasar Jurnalistik
Pesatnya kemajuan media informasi dewasa ini cukup memberikan kemajuan yang signifikan. Media cetak maupun elektronik pun saling bersaing kecepatan sehingga tidak ayal bila si pemburu berita dituntut kreativitasnya dalam penyampaian informasi. Penguasaan dasar-dasar pengetahuan jurnalistik merupakan modal yang amat penting manakala kita terjun di dunia ini. Keberadaan media tidak lagi sebatas penyampai informasi yang aktual kepada masyarakat, tapi media juga mempunyai tanggung jawab yang berat dalam menampilkan fakta-fakta untuk selalu bertindak objektif dalam setiap pemberitaannya.
Apa Itu Jurnalistik?
Menurut Kris Budiman, jurnalistik (journalistiek, Belanda) bisa dibatasi secara singkat sebagai kegiatan penyiapan, penulisan, penyuntingan, dan penyampaian berita kepada khalayak melalui saluran media tertentu. Jurnalistik mencakup kegiatan dari peliputan sampai kepada penyebarannya kepada masyarakat. Sebelumnya, jurnalistik dalam pengertian sempit disebut juga dengan publikasi secara cetak. Dewasa ini pengertian tersebut tidak hanya sebatas melalui media cetak seperti surat kabar, majalah, dsb., namun meluas menjadi media elektronik seperti radio atau televisi. Berdasarkan media yang digunakan meliputi jurnalistik cetak (printjournalism), elektronik (electronicjournalism). Akhir-akhir ini juga telah berkembang jurnalistik secara tersambung (onlinejournalism).
Atas dasar tersebut, sudah selayaknya sebuah sekolah dalam hal ini SMK Al Husna sebagai sekolah rintisan/ baru mempunyai suatu kegiatan yang mendidik siswa-siswinya untuk bisa menulis khusunya menulis jurnalistik. Oleh karena itu kami mengusulkan eksrakulikuler jurnalistik sebagai ekstrakulikuler baru di SMK Al Husna.

B.    LANDASAN HUKUM
Adapun landasan hukum diselenggarakannya ekstrakulikuler jurnalistik ini adalah sebagai berikut.
1.     Undang-undang No. 20 Tahun 2003, Tentang Sistem Pendidikan Nasional.
2.     Peraturan Pemerintah No. 25 Tahun 1999, Tentang Pendidikan Menengah Kejuruan.
3.     Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 0450/U/1992, Tentang Sekolah Menengah Kejuruan.
4.     Firman Allah dalam QS. Al Mujaadilah : 11.
Artinya : Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis (sekolah)", Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.

C.    MAKSUD DAN TUJUAN
Adapun maksud dan tujuan diselenggarakannya ekstrakulikuler jurnalistik ini adalah sebagai berikut.
1.     Mempererat hubungan antara siswa-siswi SMK AL HUSNA.
2.     Memberi kesempatan untuk saling mengenal antara siswa.
3.     Sebagai media informasi dan promosi profil dan prestasi sekolah.
4.     Menampung kreatifitas masing-masing kelas yang ditampung dalam sebuah media cetak yaitu majalah/ tabloid sekolah.
5.     Menjadi wadah bagi siswa-siswi SMK AL HUSNA untuk menyalurkan bakat dan kemampuannya maupun kreatifitasnya di bidang seni menulis maupun fotografi.
6.     Menciptakan budaya kreatif, kritis dan inovatif di tingkat siswa.
7.     Menjadi sarana bagi para siswa SMK AL HUSNA untuk berlatih berorganisasi, bekerja sama dan bertanggung jawab.
8.     Sebagai media Independen yang mengkrtisi kebijakan sekolah melalui tulisan-tulisan/ opini.
9.     Memberikan informasi pada orangtua siswa mengenai kondisi terkini tentang sekolah.

D.    NAMA KEGIATAN
Ekstrakurikuler Jurnalistik

E.     ALAT YANG DIBUTUHKAN
Adapun alat yang dibutuhkan dalam ekstrakulikuler jurnalistik ini adalah sebagai berikut.
·         Kamera digital
·         HandyCame
·         Alat perekam suara
·         Laptop/ komputer
·         ATK
·         Kartu tanda anggota (untuk tugas peliputan)

F.     SASARAN KEGIATAN
Adapun sasaran yang akan di capai dari kegiatan ini adalah civitas akademika sekolah, terutama siswa supaya dapat menciptakan budaya kreatif, kritis dan inovatif dan pada akhirnya siswa dapat mengaplikasikan ilmunya ketika sudah terjun ke lapangan yang akan mengurangi angka pengangguran membuka lapangan kerja khususnya bagi lulusan muda. Selain itu  dengan adanya kegiatan ini dapat mengurangi angka tawuran, nongkrong, dan terjelembab di dunia narkoba. Ini juga membantu memecahkan permasalahan sekolah dalam mempromosikan sekolah kepada pihak luar.

G.    ANGGARAN BIAYA
Adapun anggran biaya yang dibutuhkan dalam ekstrakurikuler jurnalistik ini diambil dari :
·         Anggaran kegiatan kesiswaan.
·         Donatur.
·         Iuran wajib anggota (@ Rp. 2000,00/ Minggu)

H.    JADWAL & TEMPAT PELAKSANAAN KEGIATAN
Kegiatan dimulai pada semester 2 bulan Januari. Setiap hari Senin pada 14.30 WIB setelah kegiatan KBM. Berlokasi di ruang kelas farmasi atau keperawatan SMK Al Husna Cisaga.

I.     MATERI DAN PEMATERI
1.    Materi
Adapun materi yang dikaji/ diperdalam dalam ekstrakulikuler jurnalistik ini adalah sebagai berikut.
·         Pengertian dan sejarah singkat jurnalistik.
·         Kode etik jurnalistik, kode etik AJI, majelis kode etik.
·         Kilas balik wartawan Indonesia, profesi wartawan, kode etik wartawan Indonesia.
·         Dewan pers, tugas dewan pers.
·         Jurnalistik dan sastra.
·         Peliputan bermetode ilmiah.
·         Peliputan selidik beretika.
·         Peliputan selidik bersastra.
·         Cara menulis berita, teknik menulis artikel, teknik pengumpulan berita.
·         Cara penggunaan perangkat elektronik pendukung tugas jurnalistik (kamera digital, alat perekam suara, laptop/ komputer).
·         Cara penggunaan software pendukung tugas jurnalistik (Ms. Word, Adobe InDesign CS5 Portable, Adobe Photoshop CS5 Extended, CorelDraw X4, RonyaSoft Poster Designer (Poster Forge) V2.01, Scribus 1.4.0rc5, dll).
2.    Pembimbing & Pemateri
Adapun pembimbing dan pemateri dalam ekstrakurikuler jurnalistik ini adalah sebagai berikut.
·         Ari Nugraha, S.Pd., M.Pd.
Guru Bahasa dan Sastra Indonesia SMK Al Husna.
·         Maya Rismayati, S.Pd.
Guru Teknik Informasi dan Komunikasi (TIK)/ KKPI SMK Al Husna.
·         Wartawan Profesional (Pemateri Tamu)

J.     TARGET KINERJA
Dengan terwujudnya kegiatan ekstrakurikuler jurnalistik maka sekolah mempunyai suatu media penyampaian informasi berupa product majalah/ tabloid sekolah. Selain itu siswa-siswi mempunyai wadah tempat berekspresi, dan curhat. Insya Allah ini menjadi titik awal kemajuan SMK Al Husna di bidang jurnalistik.